Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

Cara Simpel HANCURKAN HAMBATAN Mental (Mental Block) Dalam Diri Untuk Mencapai Tujuan.


Picture by ciputraenterpreneurship.com


Salah satu, bahkan mungkin yang terkuat dalam menghalangi kita mencapai impian kita adalah Mental Block. Ia yang menghalangi munculnya “ledakan” dari potensi-potensi sumber daya positif yang telah diberikan oleh Tuhan kita, Allah SWT kepada setiap pribadi manusia. Banyak sekali contohnya, seperti : rasa malas, kesedihan yang mendalam, trauma, dan ketakutan terhadap berbagai hal lainnya yang bagi sebagian orang kurang logis.

Tentu kita tidak bisa buru-buru memberikan “cap” kepada diri kita atau mereka yang mengalami hal tersebut. Karena pasti ada alasan, niat, atau intensi yang positif di baliknya. Dalam ilmu NLP (Neuro-Linguistic Programming) terdapat presuppositions, yaitu sebuah set asumsi dasar yang melatarbelakangi munculnya segala pemikiran. Salah satunya menyebutkan bahwa “Every behavior has utility and usefulness—in  some context”, jadi setiap perilaku seseorang pasti memiliki niat atau maksud yang baik dibaliknya. Tentunya dalam konteks tertentu, misalnya, ketika kita bertanya kepada seseorang mengapa ia mengalami ketakutan ketika berada di ketinggian. Bisa jadi jawabannya adalah karena ia tidak mau terjatuh atau tidak mau dirinya dalam kondisi yang berbahaya. 

Satu lagi contoh, “Mengapa koruptor melakukan korupsi ?”. Bisa jadi ia ingin memperkaya dirinya, membahagiakan keluarganya, ingin dipandang dan dihormati orang lain karena kekayaannya. Meskipun nyatanya hal tersebut salah, tetapi si pelaku mempunyai maksud yang positif (dalam konteks tersebut) bukan? 

Nah sebagai manusia yang terus berusaha untuk baik dan berusaha meraih tujuan-tujuan yang baik,  kita butuh cara yang benar-benar tepat untuk mengatasi hambatan mental yang terjadi dalam diri kita. Salah satunya dengan memberikan motivasi kepada diri sendiri dengan suatu bayangan keuntungan saat tujuan kita tercapai sekaligus bayangan resiko apa yang akan terjadi jika kita tidak mencapai tujuan kita.

Tahu gak sih? Sebenarnya fitrah manusia memiliki dua sifat yaitu : mencari nikmat dan menjauhi sengsara. 

Contoh saja pengalaman saat saya belajar hypnosis dan hypnotherapy di sebuah pelatihan, saya bisa menjadi yang paling berani mempraktikkan apa yang telah diajarkan di kelas, di mana pada saat itu peserta lain sangat sungkan untuk mempraktikkannya. Rasa sungkan dalam belajar itu mental block yang cukup alot saudara-saudara :)

Lalu apa yang saya pikirkan pada saat itu? Sederhana saja! “Eman-eman”. 

Karena saya sejak SMA memang sangat ingin mempelajari dan terjun dalam dunia professional hypnotherapy, saya membayangkan keinginan tersebut saya raih dengan mudahnya jika saya mau mempraktikkan sewaktu pelatihan. 
Saya juga membayangkan perjuangan saya jauh-jauh datang ke lokasi pelatihan yang berada di luar kota, dengan biaya pelatihan yang tidak sedikit, dan perjuangan orang tua saya yang mendukung penuh dalam banyak hal menjadi sia-sia jika saya tidak mau mempraktikkan. Alhasil, saya akhirnya sampai hari ini bisa menguasainya dan bertambah semangat mempelajarinya dan memanfaatkannya lebih luas. Alhamdulillah… 

Jika boleh kita rumuskan, maka rumusnya seperti ini : 

Tentukan tujuan

+

Tentukan

(keuntungan terbesar jika berhasil + kerugian terbesar jika gagal)

=

Pencapaian tujuan

Mudah sekali bukan?

Mari kita coba dengan tujuan baik  kita masing-masing.

Oh iya, bukankah dalam ajaran agama kita juga ada yang namanya Surga dan Neraka yang mewakili kenikmatan dan kesengsaraan sebagai akibat perbuatan kita? Walaupun sangat disayangkan dalam hal ini kebanyakan manusia mengabaikan. Maunya masuk surga tapi tidak takut dengan neraka. Nah loh! Ayo kita berintrospeksi diri, jika kita ingin mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Nya, lalu sejauh manakah kita sadar bahwa perbuatan baik kita akan membawa kita meraih kebaikan berlipat-lipat di dunia dan di Surga-Nya, dan perbuatan buruk kita menyengsarakan kita berlipat-lipat di dunia dan terancam dihantam siksa neraka-Nya? 
Dan sadarilah mulai saat ini atau beberapa saat lagi...

Selasa, 24 Februari 2015

Mengapa Dunia Pengembangan Diri Luar Biasa Menarik (3) : Pergeseran Paham, Mistik to Ilmiah



Assalamu’alaikum :)
Alhamdulillah setelah sekian hari jeda, ceritanya berlanjut lagi atas izinNya. Saya sudah tidak sabar berbagi cerita lagi. Jadi, tanpa perlu basa-basi lagi sebaiknya langsung dimulai saja.


“Metafisika”, ketika denger­ kata itu baik sengaja atau tidak apa yang ada di pikiran Anda?
Mengerikan dan harus dijauhi karena berhubungan dengan makhluk dari dunia sebelah, paranormal, kesaktian, dan sebagian menganggap musyrik? Atau sebaliknya, bikin penasaran, menghebatkan, dan bermanfaat? Atau bahkan lucu dan menggelikan?
Jangan nanya balik ke saya ya. Karena saya sudah pernah merasakan dan memiliki semua persepsi tersebut sehingga saya khawatir akan bingung menjawabnya. “Kok bisa?”.


Pertanyaan “Kok bisa?” ini seringkali saya jawab dengan “Masa gak bisa?” atau “Kenapa kok gak bisa?” atau dalam bahasa jawanya “Nopo kok rak iso?”. Hehehe….
Memang seiring berjalannya waktu dan pergeseran pemahaman, persepsi seseorang tentang suatu hal bisa berubah. Itulah yang terjadi pada diri saya.

Sebelum belajar metafisika, pemahaman saya tentang itu memang sebatas hal-hal yang berbau mistis, menyeramkan dan cenderung ke arah yang negatif. Itu mungkin yang sering disebut orang sebagai sindrom “kebanyakan nonton TV”. Yah dimaklumi saja karena saat itu masih sangat muda dan belum terlalu kritis terhadap hal-hal semacam itu. Tapi bukan hanya saya yang seperti itu lho, sampai sekarang masih banyak dijumpai orang-orang entah tua atau muda yang punya persepsi demikian.

Persepsi saya mulai berubah ketika saya belajar dan melakoni langsung menjadi praktisi metafisika. “Asyik sekali rasanya, bisa ngobatin orang jarak dekat dan jauh, bisa mementalkan orang yang menyerang, bisa memrogram orang sesuai keinginan, bisa menangkal gangguan metafisika, dll. Ternyata bermanfaat banget”, pikir saya saat itu setelah merasakan manfaatnya. (Udah jadi orang “sakti” nih ceritanya hehehe)

Perubahan persepsi itu terjadi karena ketika saya belajar dan melakoninya, ternyata aman-aman saja dan tidak tampak adanya indikasi musyrik, tidak pakai mantra-mantra, puasa atau syarat-syarat lain, dan sebagainya. Mungkin beberapa keilmuan ada yang melakukan hal tersebut, tapi tidak dengan keilmuan saya. (Allahu a'lam).

Tentu saja saya yang rasa penasarannya tinggi menjadi sangat bersemangat melatih dan mengeksplorasinya. Layaknya seorang anak kecil yang menemukan mainan baru, mulailah saya rajin browsing mengenai ilmu-ilmu energi yang sangat beragam. Tapi ujung-ujungnya saya kecewa, karena banyak sekali yang dalam artikelnya mengharuskan mengamalkan bacaan ini, doa itu, puasa ini itu yang tidak sesuai syariat. Saya sangat berhati-hati dalam belajar dan tentu saja menghindari hal-hal yang demikian. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa penjelasan logis tentang metafisika yang dikemas dalam sudut pandang Hipnosis dan Fisika Quantum.

Kalau dalam sudut pandang Hipnosis, insyaAllah saya dapat menjelaskan beberapa prosesnya. Tapi mungkin pada kesempatan yang lain. Itu juga hasil diskusi yang sangat panjang baik secara langsung maupun melalui chatting dengan guru, senior di SMA N 2 Semarang, sekaligus sahabat saya yang luar biasa yaitu Mas Aristian Nugraha. Beliau ini seorang Hypnotist dan Hypnotherapist yang sudah tersertifikasi oleh lembaga yang paling kompeten di Indonesia tapi bisa dengan sabar dan gak ragu-ragu membagikan ilmunya pada saya. Beliau juga yang membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari hypnosis. Saya ucapkan terima kasih pada beliau atas sharing ilmunya, semoga manfaat dan kebaikannya berlipat-lipat. Aamiin…

Nah sedangkan dalam sudut pandang Fisika Quantum, saya sedikit memahami beberapa contoh kasus dan penjelasannya, tapi jika dijelaskan melalui tulisan pasti membutuhkan waktu dan pemaparan yang tidak sedikit. Terlebih jika Anda meragukan kebenarannya. Oleh karena itu akan lebih baik dan menarik jika didiskusikan secara langsung sehingga benar-benar jelas, serta saya dan Anda bisa saling belajar satu sama lain.

Perjumpaan saya dengan konsep-konsep dalam Hypnosis dan Fisika Quantum inilah yang untuk kedua kalinya mengubah pemahaman saya mengenai fenomena “kesaktian” menjadi lebih ilmiah. Selain itu banyak teman Facebook saya ini yang hobinya membongkar trik-trik paranormal yang ternyata banyak sekali ketidaknyataan di dalamnya. Tak heran saat ini ketika melihat atau diceritakan beberapa fenomena yang “dianggap” metafisika, saya kadang senyum-senyum sendiri. Antara lucu, geli dan gemas, terlebih ketika melihat acara-acara televisi misteri yang “diperankan” oleh paranormal yang over lebay. Hehehe….

Selain itu, saya menemukan fenomena-fenomena yang “dianggap” metafisika ternyata bisa disederhanakan dan diciptakan dengan cepat tanpa latihan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melalui pendekatan ilmu Hypnosis dan Fisika Quantum yang sangat ilmiah.
Ini sangat menarik….

Bersambung….

Mengapa Dunia Pengembangan Diri Luar Biasa Menarik? (2) : Pengalaman Menerapkan Ilmu Metafisika




Assalaamu’alaikum temans :)

Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan rangkaian cerita ini dan Anda masih bisa membacanya dengan sangat baik.
Okee ceritanya kita sambung lagi, kali ini saya akan fokus kepada pengalaman menerapkan ilmu metafisika tersebut.

Di sekolah saya terdapat sebuah aula yang konon kabarnya merupakan kerajaan jin yang sangat besar. Penguasanya adalah sosok jin laki-laki besar berwajah mengerikan yang kulitnya berwarna merah berambut panjang. Memiliki ribuan anak buah dengan berbagai macam bentuk entah itu laki-laki, perempuan, tua maupun muda, serta anak-anak kecil yang siap menyerang siapapun yang mengganggu keberadaan mereka.

Jangan sekali-sekali membayangkan bentuknya seseram apa, karena kemungkinan Anda akan nyambung dengan frekuensi mereka waspadalah nanti mereka bisa muncul di sekitar Anda saat Anda lengah.

Tapi jangan khawatir, karena saya hanya mengada-ada saja, saya pun belum pernah kebayang apalagi ditemui salah satu dari mereka. Hehehe…

Pernah suatu sore saya dan salah seorang rekan sedang bersantai di beranda masjid sekolah setelah ada sebuah kegiatan. Tiba-tiba kami berdua dipanggil oleh beberapa anggota dari sebuah ekskul yang saat itu sedang mengadakan latihan rutin di sekitar aula tersebut. Ternyata kami dipanggil gara-gara beberapa siswa anggota ekskul tersebut mengalami kesurupan. Saya dan rekan saya segera saja mendatangi mereka. Karena merasa bisa, saat itu kami tenang saja. Dengan melakukan prosedur-prosedur tertentu dalam menggunakan energi yang pernah diajarkan, kami mencoba mengatasi hal tersebut. Namun apa yang terjadi? Satu orang belum selesai ditangani, namun sudah bermunculan “korban-korban” baru yang lain. Seperti yang kita ketahui kesurupan memang seringkali menular.

Itu membuat kami terpaksa harus bolak-balik ke “korban” A lalu ke B, ke A lagi, lalu ke C, A minor, D minor ke G dan seterusnya hahaha…

Capek sekali rasanya karena energi kami terkuras banyak sekali. Apalagi saat itu menjelang maghrib yang konon menjadi waktu terkuat para bangsa jin dan kawan-kawannya. Kemudian kami memutuskan berhenti untuk sholat dulu dengan pertimbangan para “korban” sudah mulai tenang dan yakin mereka akan tetap aman walaupun para makhluk masih bersarang di dalamnya.

Seusai sholat maghrib dan menyelesaikan dzikir serta doa, dengan keyakinan bahwa energi kami telah ter-recharge, kami melanjutkan “pertarungan” kami dengan mereka. Terus terang saya dan rekan saya kewalahan saat itu. Susaaaah sekali mengeluarkan mereka, mungkin karena mereka sedang kuat-kuatnya. Apalagi mereka tidak bisa diajak berkomunikasi. Lalu karena sudah kehabisan akal, kami sepakat untuk menghubungi guru kami dengan maksud meminta bantuan dari jarak jauh. Tentu saja rasa percaya diri kami seketika meningkat setelahnya, energi kami menjadi luar biasa besar. Akhirnya satu persatu korban berhasil sadar kembali dan berakhirlah “pertarungan” kami, dengan kami yang keluar sebagai pemenangnya hehehe…

Kalau mengingatnya saya merasakan keseruannya di sana. Memang seru sekali ketika mengatasi hal-hal seperti itu. Ibarat sedang bertanding di sebuah pertarungan lintas dimensi, dimensi nyata dan dimensi ghaib. Tentu saja banyak yang menonton, di mana-mana tontonan gratis selalu banyak peminatnya hehehe…

Pengalaman tak terlupakan tersebutlah yang membuat rasa penasaran saya bertambah tinggi terhadap ilmu-ilmu seperti ini. Saya bersyukur diberi rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga saya selalu mau mempelajari hal-hal yang lebih dari yang diajarkan guru saya. Ya, saya menjadi sangat hobi membaca artikel-artikel tentang metafisika, hypnosis, hypnotherapy, dan sebagainya yang akhirnya menggeser pemahaman saya ke pemahaman baru yang lebih logis dan aman dari rusaknya aqidah.

Bersambung…

Sabtu, 14 Desember 2013

Bahaya Lagu dan Pemberitaan Media Massa

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kali ini saya akan menjabarkan sedikit yang saya ketahui tentang bahaya yang ditimbulkan dari lagu dan pemberitaan media massa. Judul materi ini sedikit berubah dari rencana saya sebelumnya. Yah namanya juga rencana.. Bisa berubah sesuai kebutuhan.

Lagu-lagu dan pemberitaan media massa merupakan hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan mungkin kalau sehari saja tidak ada lagu-lagu dan pemberitaan, pastinya akan menimbulkan "kehebohan" baik di pihak media maupun masyarakat. 

Nah, bahayanya adalah lagu dan pemberitaan tersebut selalu diulang-ulang. Ini sangat memungkinkan hal-hal tersebut masuk dan tertanam kuat di dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Kalau lagu-lagu dan pemberitaannya bersifat positif gak masalah. Nah, sayangnya kita jarang sekali mendapatkan hal positif itu dari media.

Lagu-lagu yang bernuansa "galau", "cinta-cintaan", bahkan menggunakan kata-kata "bunuh-membunuh" bahkan banyak juga yang berbau syirik. Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagunya siapa dan yang seperti apa. Sebenarnya dalam Islam ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebagian mengharamkan, sebagian memakruhkan, dan sebagian lagi membolehkan dengan syarat lagu tersebut tidak mengandung kesyirikan. Memang sih kita tahu hukumnya seperti itu, namun sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menghindarinya. Maka dari itu akui saja, jangan melawan kalau kita masih senang dengan lagu-lagu tersebut, namun usahakan menguranginya.

Bagaimana dengan media saat ini. Yaa tau sendiri lah... cukup parah... Bahkan media seperti memiliki motto "Bad news is the good news". Berita keburukan orang lain akan menjadi kabar baik bagi media karena pastinya menguntungkan mereka. Apalagi infotainment yang beritanya "gak nggenah blas", hehe...

Dalam sudut pandang Fisika Quantum, seperti yang sudah saya tuliskan di catatan sebelumnya yang berjudul "Mengenal Vibrasi Pikiran Negatif (Force) dan Pikiran Positif (Power)" bahwa sesuatu yang diberikan attention secara terus menerus akan membentuk realita. Ini didasarkan dari double slit experiment untuk menguji bahwa cahaya memiliki sifat dualitas yaitu bersifat partikel dan gelombang yang dilakukan oleh Young (temen-temen yang pernah jadi anak SMA kelas 12 IPA pasti tahu). Ada sebuah keanehan yang terjadi pada percobaan tersebut. Ketika si pengamat memfokuskan penelitian pada salah satu celah yang di tembakkan sinar laser, partikel-partikel cahaya tersebut menjadi cenderung masuk di celah yang difokuskan tersebut. Aneh bukan?

Hal tersebut yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai Observer Effect. Yaitu sesuatu yang sedang diamati akan cenderung berhenti atau seperti mengendap. Tidak heran banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa atom tidak akan ketemu kalau tidak diamati, pergerakan atom juga tidak akan diketahui jika tidak diamati.

Dalam sudut pandang Psikologi, sesuatu yang diulang-ulang terus menerus akan merubah pola pikir. Bahkan saya juga pernah membaca di sebuah artikel bahwa untuk menjadikan kebiasaan dibutuhkan waktu 21 hari mengulang-ulang suatu hal atau kegiatan yang sama.

Nah ini juga berlaku untuk lagu-lagu dan pemberitaan yang saat ini tidak mungkin tidak mendapatkan banyak attention dan selalu diulang-ulang di media. Secara teori, hal itu yang mengarahkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Kita ambil contoh saja pemberitaan kasus korupsi, kecelakaan pesawat, Tugu Tani, penyiraman air keras, dll. Setelah hal tersebut diberitakan terus-menerus apa yang terjadi ? Ternyata setelahnya kejadian yang sama terus menerus terulang juga. Tidak heran betapa kacaunya masyarakat kita.

Contoh lain bisa kita lihat dari pelantun lagu "Alamat Palsu", bagaimana hidupnya benar-benar dipertemukan dengan "kepalsuan". Kita bisa lihat dengan penyanyi-penyanyi yang lain, bagaimana hidupnya mirip-mirip seperti lirik lagu-lagu yang mereka populerkan. Makanya saya beberapa waktu yang lalu sempat nge-tweet "Ngeri sama lagunya geisha". Teman-teman pasti bisa tahu apa yang saya maksud dan menebak-nebak apa yang terjadi ke depannya. Lagu kok minta di buat lupa ingatan, jelas ngeri banget lah bagi kita yang paham soal ini. Apalagi kalo misalnya sampe lupa sama Allah. Astaghfirullah....

Begitulah Allah menciptakan semacam hukum alam, yang wajib dijaga oleh manusia yang beriman. Ketika kita dilarang berpikiran negatif, dilarang fanatik terhadap sesuatu, dilarang berlebihan, dan dilarang hal-hal yang dilarang Allah dalam agamaNya pasti ada manfaat dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. 

Subhanallah...
Walhamdulillah...
Wa laa ilaaha illallah...
Wallahuakbar...

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya sampaikan, karena banyak hal lain yang harus dikerjakan jadi sekarang cukup sekian dulu. Tapi InsyaAllah akan saya lanjutkan di note-note selanjutnya. 

Nb : Di sini bukan berarti saya suka nonton infotainment lho ya. Saya cuma sedikit-sedikit tahu dan menjadikannya contoh dalam note ini supaya bisa menjelaskan ke teman-teman dengan mudah. Tapi yang jelas saya suka nonton Spongebob, Doraemon, Naruto, Tom and Jerry, dll. Hehehe...

Mohon kritik + saran teman-teman di kolom comment ya :)

Semoga bermanfaat 

Terimakasih :)

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Rabu, 19 Desember 2012

Terapi Dengan 5 Obat Hati

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kali ini saya akan berbagi artikel tentang Terapi Dengan 5 Obat Hati.
Bismillahirrohmaanirrohiim,


Muhammad Mahmud Mahmud (dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, 2001), seorang psikolog muslim ternama membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori.

Pertama, bersifat duniawi berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Psikoterapi duniawi merupakan hasil daya upaya manusia berupa teknik-teknik terapi atau pengobatan kejiwaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah insaniyah.

Kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama, dan kedua model psikoterapi ini satu sama lain saling terkait.

Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2001) psikoterapi dalam Islam yang dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi, ukhrawi maupun penyakit manusia modern adalah sebagaimana ungkapan dari Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

Obat hati itu ada lima macam:
1. Membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya,
2. Melakukan shalat malam,
3. Bergaul dengan orang yang baik atau shalih,
4. Memperbanyak shaum atau puasa,
5. Dzikir malam hari yang diperpanjang.

Barang siapa yang mampu melakukan salah salah satu dari kelima macam obat hati tersebut maka Allah akan mengabulkannya (permintaannya dengan menyembuhkan penyakit yang diderita).


Terapi yang pertama membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya


Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab di dalamnya terdapat rahasia mengenai bagaimana menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan seseorang. Sugesti yang dimaksud dapat diraih dengan mendengar, membaca, memahami dan merenungkan, serta melaksanakan isi kandungannya:



Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra, 71:82).

Terapi yang kedua adalah melakukan shalat malam (qiyamul lail)

.
Keampuhan terapi shalat sunnah ini sangat terkait dengan pengamalan shalat wajib, sebab kedudukan terapi shalat sunnah hanya menjadi suplemen bagi terapi shalat wajib. Adapun hikmah dari pelaksanaan shalat malam dalam hal ini shalat tahajud adalah:

  •  Mendapat kedudukan terpuji di hadapan Allah SWT.

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai
suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu
ke tempat yang Terpuji. (QS. Al-Israa, 71:79).

  • Memiliki kepribadian orang-orang salih yang dekat dengan Allah SWT., terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar.
  • Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketentraman dan dijanjikan kenikmatan syurga.
  • Doanya makbul, mendapat ampunan Allah SWT., dan dilapangkan rizkinya.
  • Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.



Shalat secara umum memiliki empat aspek terapeutik,

Pertama adalah aspek olahraga, karena shalat adalah suatu proses yang menuntut aktivitas fisik yang di dalamnya terdapat proses relaksasi. Salah satu teknik yang banyak dipakai dalam proses terapi gangguan jiwa adalah latihan relaksasi. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Nizami diungkap bahwa shalat menghasilkan bio energi yang menghantarkan si pelaku dalam situasi seimbang (equilibrium). 

Hasil penelitian lainnya dari Arif Wisono Adi, 1985 (dalam Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori, 1994) menunjukan adanya korelasi negatif yang signifikan antara keteraturan menjalankan shalat dengan tingkat kecemasan. Makin rajin dan teratur orang melakukan shalat maka makin rendah tingkat kecemasannya.

Kedua adalah aspek meditasi. Shalat adalah proses yang menuntut konsentrasi yang dalam (khusuk) dan kekhusukan dalam shalat adalah suatu proses meditasi, yang dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa aktivitas meditasi dapat menghilangkan kecemasan.

Ketiga adalah aspek auto-sugesti. Bacaan dalam pelaksanaan shalat adalah ucapan yang dipanjatkan pada Allah. Di samping berisi pujian pada Allah juga berisikan doa dan permohonan pada Allah agar selamat di dunia dan di akhirat. Proses shalat pada dasarnya adalah terapi yang tidak berbeda dengan terapi "self-hypnosis" dengan mensugesti diri sendiri dengan mengucapkan hal-hal yang baik pada diri sendiri agar memiliki sifat yang baik tersebut.

Keempat adalah aspek kebersamaan. Hal ini tampak pada saat pelaksanaan shalat berjamaah yang pada pelaksanaannya memupuk rasa kebersamaan. Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan "keterasingan" dari orang lain adalah penyebab utama terjadinya gangguan jiwa. Dengan shalat berjamaah perasaan terasing dari orang lain itu dapat hilang.

Terapi yang ketiga adalah bergaul dengan orang salih. 

Orang yang salih adalah orang yang mampu mengintegrasikan dirinya dan mampu mengaktualisasikan potensinya semaksimal mungkin dalam berbagai dimensi kehidupan. Jika
seseorang dapat bergaul dengan orang salih maka nasihat-nasihat dari orang salih tersebut akan dapat memberikan terapi bagi kelainan atau penyakit mental seseorang. Dalam terminologi tasawuf hal ini tergambar pada seorang guru sufi atau mursyid yang memiliki ketajaman batin terhadap kondisi penyakit muridnya.

Terapi yang keempat adalah melakukan puasa. 

Maksud puasa di sini adalah menahan (imsak) diri dari segala perbuatan yang dapat merusak citra fitri manusia. Al-Ghazali mengemukakan bahwa hikmah berpuasa (menahan rasa lapar) adalah:


  1. Menjernihkan kalbu dan mempertajam pandangan akal
  2. Melembutkan kalbu sehingga mampu merasakan kenikmatan batin
  3. Menjauhkan perilaku yang hina dan sombong, yang perilaku ini sering mengakibatkan kelupaan
  4. Mengingatkan jiwa manusia akan cobaan dan azab Allah, sehingga sangat hati-hati di dalam memilih makanan
  5. Memperlemah syahwat da tertahannya nafsu amarah yang buruk
  6. Mengurangi tidur untuk diisi dengan berbagai aktivitas ibadah
  7. Mempermudah untuk selalu tekun beribadah
  8. Menyehatkan badan dan jiwa
  9. Menumbuhkan kepedulian sosial
  10. Menumbuhkan rasa empati

Terapi yang kelima adalah berdzikir. 


Dalam arti sempit zikir berarti menyebut asma-asma agung dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti yang luas, zikir mencakup pengertian mengingat segala keagungan dan kasih sayang Allah SWT. yang telah diberikan kepada kita, sambil mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang untuk mengingat, menyebut dan mereduksi kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT., semata sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya, melakukan zikir sama nilainya dengan terapi relaksasi.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd, 13:28)”.

SUMBER

Semoga bermanfaat, ;)
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.