Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

Cara Simpel HANCURKAN HAMBATAN Mental (Mental Block) Dalam Diri Untuk Mencapai Tujuan.


Picture by ciputraenterpreneurship.com


Salah satu, bahkan mungkin yang terkuat dalam menghalangi kita mencapai impian kita adalah Mental Block. Ia yang menghalangi munculnya “ledakan” dari potensi-potensi sumber daya positif yang telah diberikan oleh Tuhan kita, Allah SWT kepada setiap pribadi manusia. Banyak sekali contohnya, seperti : rasa malas, kesedihan yang mendalam, trauma, dan ketakutan terhadap berbagai hal lainnya yang bagi sebagian orang kurang logis.

Tentu kita tidak bisa buru-buru memberikan “cap” kepada diri kita atau mereka yang mengalami hal tersebut. Karena pasti ada alasan, niat, atau intensi yang positif di baliknya. Dalam ilmu NLP (Neuro-Linguistic Programming) terdapat presuppositions, yaitu sebuah set asumsi dasar yang melatarbelakangi munculnya segala pemikiran. Salah satunya menyebutkan bahwa Every behavior has utility and usefulness—in  some context, jadi setiap perilaku seseorang pasti memiliki niat atau maksud yang baik dibaliknya. Tentunya dalam konteks tertentu, misalnya, ketika kita bertanya kepada seseorang mengapa ia mengalami ketakutan ketika berada di ketinggian. Bisa jadi jawabannya adalah karena ia tidak mau terjatuh atau tidak mau dirinya dalam kondisi yang berbahaya. 

Satu lagi contoh, “Mengapa koruptor melakukan korupsi ?”. Bisa jadi ia ingin memperkaya dirinya, membahagiakan keluarganya, ingin dipandang dan dihormati orang lain karena kekayaannya. Meskipun nyatanya hal tersebut salah, tetapi si pelaku mempunyai maksud yang positif (dalam konteks tersebut) bukan? 

Nah sebagai manusia yang terus berusaha untuk baik dan berusaha meraih tujuan-tujuan yang baik,  kita butuh cara yang benar-benar tepat untuk mengatasi hambatan mental yang terjadi dalam diri kita. Salah satunya dengan memberikan motivasi kepada diri sendiri dengan suatu bayangan keuntungan saat tujuan kita tercapai sekaligus bayangan resiko apa yang akan terjadi jika kita tidak mencapai tujuan kita.

Tahu gak sih? Sebenarnya fitrah manusia memiliki dua sifat yaitu : mencari nikmat dan menjauhi sengsara

Contoh saja pengalaman saat saya belajar hypnosis dan hypnotherapy di sebuah pelatihan, saya bisa menjadi yang paling berani mempraktikkan apa yang telah diajarkan di kelas, di mana pada saat itu peserta lain sangat sungkan untuk mempraktikkannya. Rasa sungkan dalam belajar itu mental block yang cukup alot saudara-saudara :)

Lalu apa yang saya pikirkan pada saat itu? Sederhana saja! “Eman-eman”. 

Karena saya sejak SMA memang sangat ingin mempelajari dan terjun dalam dunia professional hypnotherapy, saya membayangkan keinginan tersebut saya raih dengan mudahnya jika saya mau mempraktikkan sewaktu pelatihan. 
Saya juga membayangkan perjuangan saya jauh-jauh datang ke lokasi pelatihan yang berada di luar kota, dengan biaya pelatihan yang tidak sedikit, dan perjuangan orang tua saya yang mendukung penuh dalam banyak hal menjadi sia-sia jika saya tidak mau mempraktikkan. Alhasil, saya akhirnya sampai hari ini bisa menguasainya dan bertambah semangat mempelajarinya dan memanfaatkannya lebih luas. Alhamdulillah… 

Jika boleh kita rumuskan, maka rumusnya seperti ini : 

Tentukan tujuan

+

Tentukan

(keuntungan terbesar jika berhasil + kerugian terbesar jika gagal)

=

Pencapaian tujuan

Mudah sekali bukan?

Mari kita coba dengan tujuan baik  kita masing-masing.

Oh iya, bukankah dalam ajaran agama kita juga ada yang namanya Surga dan Neraka yang mewakili kenikmatan dan kesengsaraan sebagai akibat perbuatan kita? Walaupun sangat disayangkan dalam hal ini kebanyakan manusia mengabaikan. Maunya masuk surga tapi tidak takut dengan neraka. Nah loh! Ayo kita berintrospeksi diri, jika kita ingin mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Nya, lalu sejauh manakah kita sadar bahwa perbuatan baik kita akan membawa kita meraih kebaikan berlipat-lipat di dunia dan di Surga-Nya, dan perbuatan buruk kita menyengsarakan kita berlipat-lipat di dunia dan terancam dihantam siksa neraka-Nya? 
Dan sadarilah mulai saat ini atau beberapa saat lagi...

Selasa, 24 Februari 2015

Mengapa Dunia Pengembangan Diri Luar Biasa Menarik (3) : Pergeseran Paham, Mistik to Ilmiah



Assalamu’alaikum :)
Alhamdulillah setelah sekian hari jeda, ceritanya berlanjut lagi atas izinNya. Saya sudah tidak sabar berbagi cerita lagi. Jadi, tanpa perlu basa-basi lagi sebaiknya langsung dimulai saja.


“Metafisika”, ketika denger­ kata itu baik sengaja atau tidak apa yang ada di pikiran Anda?
Mengerikan dan harus dijauhi karena berhubungan dengan makhluk dari dunia sebelah, paranormal, kesaktian, dan sebagian menganggap musyrik? Atau sebaliknya, bikin penasaran, menghebatkan, dan bermanfaat? Atau bahkan lucu dan menggelikan?
Jangan nanya balik ke saya ya. Karena saya sudah pernah merasakan dan memiliki semua persepsi tersebut sehingga saya khawatir akan bingung menjawabnya. “Kok bisa?”.


Pertanyaan “Kok bisa?” ini seringkali saya jawab dengan “Masa gak bisa?” atau “Kenapa kok gak bisa?” atau dalam bahasa jawanya “Nopo kok rak iso?”. Hehehe….
Memang seiring berjalannya waktu dan pergeseran pemahaman, persepsi seseorang tentang suatu hal bisa berubah. Itulah yang terjadi pada diri saya.

Sebelum belajar metafisika, pemahaman saya tentang itu memang sebatas hal-hal yang berbau mistis, menyeramkan dan cenderung ke arah yang negatif. Itu mungkin yang sering disebut orang sebagai sindrom “kebanyakan nonton TV”. Yah dimaklumi saja karena saat itu masih sangat muda dan belum terlalu kritis terhadap hal-hal semacam itu. Tapi bukan hanya saya yang seperti itu lho, sampai sekarang masih banyak dijumpai orang-orang entah tua atau muda yang punya persepsi demikian.

Persepsi saya mulai berubah ketika saya belajar dan melakoni langsung menjadi praktisi metafisika. “Asyik sekali rasanya, bisa ngobatin orang jarak dekat dan jauh, bisa mementalkan orang yang menyerang, bisa memrogram orang sesuai keinginan, bisa menangkal gangguan metafisika, dll. Ternyata bermanfaat banget”, pikir saya saat itu setelah merasakan manfaatnya. (Udah jadi orang “sakti” nih ceritanya hehehe)

Perubahan persepsi itu terjadi karena ketika saya belajar dan melakoninya, ternyata aman-aman saja dan tidak tampak adanya indikasi musyrik, tidak pakai mantra-mantra, puasa atau syarat-syarat lain, dan sebagainya. Mungkin beberapa keilmuan ada yang melakukan hal tersebut, tapi tidak dengan keilmuan saya. (Allahu a'lam).

Tentu saja saya yang rasa penasarannya tinggi menjadi sangat bersemangat melatih dan mengeksplorasinya. Layaknya seorang anak kecil yang menemukan mainan baru, mulailah saya rajin browsing mengenai ilmu-ilmu energi yang sangat beragam. Tapi ujung-ujungnya saya kecewa, karena banyak sekali yang dalam artikelnya mengharuskan mengamalkan bacaan ini, doa itu, puasa ini itu yang tidak sesuai syariat. Saya sangat berhati-hati dalam belajar dan tentu saja menghindari hal-hal yang demikian. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa penjelasan logis tentang metafisika yang dikemas dalam sudut pandang Hipnosis dan Fisika Quantum.

Kalau dalam sudut pandang Hipnosis, insyaAllah saya dapat menjelaskan beberapa prosesnya. Tapi mungkin pada kesempatan yang lain. Itu juga hasil diskusi yang sangat panjang baik secara langsung maupun melalui chatting dengan guru, senior di SMA N 2 Semarang, sekaligus sahabat saya yang luar biasa yaitu Mas Aristian Nugraha. Beliau ini seorang Hypnotist dan Hypnotherapist yang sudah tersertifikasi oleh lembaga yang paling kompeten di Indonesia tapi bisa dengan sabar dan gak ragu-ragu membagikan ilmunya pada saya. Beliau juga yang membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari hypnosis. Saya ucapkan terima kasih pada beliau atas sharing ilmunya, semoga manfaat dan kebaikannya berlipat-lipat. Aamiin…

Nah sedangkan dalam sudut pandang Fisika Quantum, saya sedikit memahami beberapa contoh kasus dan penjelasannya, tapi jika dijelaskan melalui tulisan pasti membutuhkan waktu dan pemaparan yang tidak sedikit. Terlebih jika Anda meragukan kebenarannya. Oleh karena itu akan lebih baik dan menarik jika didiskusikan secara langsung sehingga benar-benar jelas, serta saya dan Anda bisa saling belajar satu sama lain.

Perjumpaan saya dengan konsep-konsep dalam Hypnosis dan Fisika Quantum inilah yang untuk kedua kalinya mengubah pemahaman saya mengenai fenomena “kesaktian” menjadi lebih ilmiah. Selain itu banyak teman Facebook saya ini yang hobinya membongkar trik-trik paranormal yang ternyata banyak sekali ketidaknyataan di dalamnya. Tak heran saat ini ketika melihat atau diceritakan beberapa fenomena yang “dianggap” metafisika, saya kadang senyum-senyum sendiri. Antara lucu, geli dan gemas, terlebih ketika melihat acara-acara televisi misteri yang “diperankan” oleh paranormal yang over lebay. Hehehe….

Selain itu, saya menemukan fenomena-fenomena yang “dianggap” metafisika ternyata bisa disederhanakan dan diciptakan dengan cepat tanpa latihan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melalui pendekatan ilmu Hypnosis dan Fisika Quantum yang sangat ilmiah.
Ini sangat menarik….

Bersambung….

Mengapa Dunia Pengembangan Diri Luar Biasa Menarik? (2) : Pengalaman Menerapkan Ilmu Metafisika




Assalaamu’alaikum temans :)

Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan rangkaian cerita ini dan Anda masih bisa membacanya dengan sangat baik.
Okee ceritanya kita sambung lagi, kali ini saya akan fokus kepada pengalaman menerapkan ilmu metafisika tersebut.

Di sekolah saya terdapat sebuah aula yang konon kabarnya merupakan kerajaan jin yang sangat besar. Penguasanya adalah sosok jin laki-laki besar berwajah mengerikan yang kulitnya berwarna merah berambut panjang. Memiliki ribuan anak buah dengan berbagai macam bentuk entah itu laki-laki, perempuan, tua maupun muda, serta anak-anak kecil yang siap menyerang siapapun yang mengganggu keberadaan mereka.

Jangan sekali-sekali membayangkan bentuknya seseram apa, karena kemungkinan Anda akan nyambung dengan frekuensi mereka waspadalah nanti mereka bisa muncul di sekitar Anda saat Anda lengah.

Tapi jangan khawatir, karena saya hanya mengada-ada saja, saya pun belum pernah kebayang apalagi ditemui salah satu dari mereka. Hehehe…

Pernah suatu sore saya dan salah seorang rekan sedang bersantai di beranda masjid sekolah setelah ada sebuah kegiatan. Tiba-tiba kami berdua dipanggil oleh beberapa anggota dari sebuah ekskul yang saat itu sedang mengadakan latihan rutin di sekitar aula tersebut. Ternyata kami dipanggil gara-gara beberapa siswa anggota ekskul tersebut mengalami kesurupan. Saya dan rekan saya segera saja mendatangi mereka. Karena merasa bisa, saat itu kami tenang saja. Dengan melakukan prosedur-prosedur tertentu dalam menggunakan energi yang pernah diajarkan, kami mencoba mengatasi hal tersebut. Namun apa yang terjadi? Satu orang belum selesai ditangani, namun sudah bermunculan “korban-korban” baru yang lain. Seperti yang kita ketahui kesurupan memang seringkali menular.

Itu membuat kami terpaksa harus bolak-balik ke “korban” A lalu ke B, ke A lagi, lalu ke C, A minor, D minor ke G dan seterusnya hahaha…

Capek sekali rasanya karena energi kami terkuras banyak sekali. Apalagi saat itu menjelang maghrib yang konon menjadi waktu terkuat para bangsa jin dan kawan-kawannya. Kemudian kami memutuskan berhenti untuk sholat dulu dengan pertimbangan para “korban” sudah mulai tenang dan yakin mereka akan tetap aman walaupun para makhluk masih bersarang di dalamnya.

Seusai sholat maghrib dan menyelesaikan dzikir serta doa, dengan keyakinan bahwa energi kami telah ter-recharge, kami melanjutkan “pertarungan” kami dengan mereka. Terus terang saya dan rekan saya kewalahan saat itu. Susaaaah sekali mengeluarkan mereka, mungkin karena mereka sedang kuat-kuatnya. Apalagi mereka tidak bisa diajak berkomunikasi. Lalu karena sudah kehabisan akal, kami sepakat untuk menghubungi guru kami dengan maksud meminta bantuan dari jarak jauh. Tentu saja rasa percaya diri kami seketika meningkat setelahnya, energi kami menjadi luar biasa besar. Akhirnya satu persatu korban berhasil sadar kembali dan berakhirlah “pertarungan” kami, dengan kami yang keluar sebagai pemenangnya hehehe…

Kalau mengingatnya saya merasakan keseruannya di sana. Memang seru sekali ketika mengatasi hal-hal seperti itu. Ibarat sedang bertanding di sebuah pertarungan lintas dimensi, dimensi nyata dan dimensi ghaib. Tentu saja banyak yang menonton, di mana-mana tontonan gratis selalu banyak peminatnya hehehe…

Pengalaman tak terlupakan tersebutlah yang membuat rasa penasaran saya bertambah tinggi terhadap ilmu-ilmu seperti ini. Saya bersyukur diberi rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga saya selalu mau mempelajari hal-hal yang lebih dari yang diajarkan guru saya. Ya, saya menjadi sangat hobi membaca artikel-artikel tentang metafisika, hypnosis, hypnotherapy, dan sebagainya yang akhirnya menggeser pemahaman saya ke pemahaman baru yang lebih logis dan aman dari rusaknya aqidah.

Bersambung…

Mengapa Dunia Pengembangan Diri Luar Biasa Menarik? (1) : Berawal dari Dunia Metafisika

Assalaamu'alaikum, selamat morning teman-teman yang dimuliakanNya...

Kali ini ingin rasanya bercerita mengenai awal mula mengapa saya sangat tertarik dengan dunia pengembangan diri dan kawan-kawannya (Hypnosis, Hypnotherapy, NLP, Energy Healing, EFT/SEFT, Vibrasi, Quantum dll.) Mungkin beberapa istilah tampak asing bagi beberapa orang. Tapi InsyaAllah akan dijelaskan pada rentetan cerita bersambung ini. Seandainya tidak sabar, mungkin teman-teman bisa langsung googling dan mencari penjelasan langsung dari sumber yang terpercaya.

Tujuannya selain sebagai pembelajaran saya, juga untuk meluruskan persepsi umum mengenai hal-hal di atas. Sehingga paling tidak sedikit bergeser pemahamannya kearah yang lebih positif. Oke kita mulai langsung saja.


Ehm tes tes…
Baiklah, saya akan mulai dari masa ketika saya duduk di bangku kelas X SMA sekitar tahun 2010. Di sekolah, saya bergabung dengan sebuah ekstrakurikuler yang bernama Holistic Healing Training (sekarang berganti nama menjadi Natural Healing Training) yaitu ekskul yang fokus membahas dan mengajarkan mengenai metode-metode pengobatan timur (Accupressure, Reflexology, Bekam, Thibun Nabawi, dll.). Saya kira ini hanya ada satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin satu-satunya di dunia, dan itu di sekolah saya hehe...

Seiring berjalannya waktu dan bertambah majunya keilmuan, mulailah diajarkan mengenai keilmuan yang memanfaatkan energi metafisika murni (red: energi metafisika yang bersumber dari pengolahan energi alam, bukan dari jin dan kawan-kawannya) yang digunakan untuk pengobatan. Gak tanggung-tanggung, bukan cuma untuk mengobati penyakit medis saja, bahkan penyakit non medis seperti santet, tenung/teluh, kesurupan, gangguan jin, dan lainnya pun bisa baik jarak dekat maupun jarak jauh.Selain itu juga mempelajari cara-cara pendeteksian energi, beladiri energi, memproteksi dengan energi, dan lain sebagainya. Di lain waktu saya akan bercerita tentang ini.

Sampai tahap ini sudah mulai terkesan mistis dan menyeramkan atau belum? hehehe…

Sebenarnya masih belum terlalu menyeramkan, karena nanti entah pada halaman ini atau pada halaman yang lain, InsyaAllah akan saya ceritakan pengalaman saya yang lebih menyeramkan menurut sebagian orang.

Perlu saya ingatkan kembali terutama untuk diri saya sendiri dan pembaca, bahwa tulisan ini hanyalah sebagai  pembelajaran bagi saya dan bukan bermaksud “sok” atau “gimana gitu”. Sekali lagi hanya untuk pembelajaran. Jadi, mohon maaf apabila ada kesan yang kurang menyenangkan.

Oke, kembali lagi ke masa SMA. Saya bisa dibilang sangat aktif dalam ekskul tersebut bahkan termasuk salah satu yang dianggap paling berbakat dalam bidang metafisika bersama beberapa rekan saya yang juga dianggap paling berbakat. Ya, karena mungkin saya termasuk orang yang lumayan cepat menyerap ilmu yang diajarkan. Di ajari cara A bisa, cara B bisa, dan masih banyak lagi. Tapi belakangan ini saya jadi tahu kenapa saya begitu berbakat dalam hal tersebut. Karena sebenarnya siapapun bisa dan berbakat, termasuk Anda. Tapi saya belum berniat membahasnya pada halaman ini.

Dengan bekal kemampuan tersebut, saya bersama beberapa teman tentunya sangat dipercaya untuk menangani beberapa kasus yang seringkali warga sekolah menganggapnya sebagai akibat dari pengaruh “makhluk lain” atau perbuatan para “orang pintar”. Mulai dari yang “dianggap” sebagai tenung lah, santet lah, kesurupan atau apapun yang hampir setiap minggu pasti terjadi di sekolah saya.

Kenapa menggunakan kata “dianggap”? Ya, karena akhirnya saya memahami bahwa tidak semua kasus tersebut sumbernya dari hal-hal tersebut. Meskipun begitu saya saat itu masih meng-iyakan bahwa kasus-kasus tersebut bersumber dari hal-hal sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Dengan kata lain, saya belum "sadar" dari semua itu. Nah sampai di sini pastinya menarik. Intinya saya dan beberapa teman menjadi orang yang sangat sakti saat itu. Walaupun akhirnya saya tahu bahwa semua orang sebenarnya “sakti” sejak lahir, dari sananya hehehe...

Itulah awal mula saya mengenal dunia pengembangan diri, pada cerita-cerita selanjutnya akan diceritakan bagaimana hal-hal tersebut bisa saya lakukan, sehingga nanti muncul titik temu bagaimana hal-hal tersebut secara logika bisa terjadi, InsyaAllah…

Bersambung….

Memahami Konsep Takdir Dari Serial Doraemon


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Minggu pagi (30/11/2014) kemarin, seperti biasa jika ada waktu luang pasti menyempatkan diri menonton serial doraemon yang tayang di RCTI.Kartun legendaris ini memang sejak dulu ceritanya tak pernah membosankan. Tapi baru kali ini melihat yang bener-bener bisa dipelajari dalam kehidupan. Dan kali ini betul-betul keren, membahas soal takdir.

Awalnya Nobita iseng menggunakan mesin waktu ke masa depan untuk melihat masa depan teman-temannya. Kemudian kembali lalu menawarkan teman-temannya untuk diramal.

Hal tersebut dilihat oleh seorang pemuda kurus dan miskin. Pemuda itu meminta diramal juga sambil memohon-mohon. Lalu diajaklah Nobita ke rumahnya. Rumahnya biasa-biasa saja dan cenderung jelek. Ia seorang yang bercita-cita menjadi penulis. Beberapa naskah novel sudah ia buat, bahkan sejak SD tapi tak pernah selesai.

Akhirnya Nobita menyanggupi dan mengajak Doraemon berkunjung ke 5 tahun ke depan. Ternyata pemuda itu tetap miskin, bahkan kertas naskah-naskahnya di jual ke tukang loak untuk ditukar dengan makanan, walaupun akhirnya hanya bisa ditukar dengan 2 gulung tisu toilet.

Lumayan mengenaskan...

Nobita dan doraemon kemudian kembali dan menceritakannya pada si pemuda. Tentu saja pemuda itu sedikit putus asa dan menyadari bahwa ia tak akan bisa menjadi penulis. Lalu dengan memotivasi dirinya sendiri “Aku tak boleh putus asa, mungkin ini bukan jalanku, aku akan mencari pekerjaan lain” kira-kira seperti itu ucapannya versi saya (karena saya juga lupa hehe). Intinya ia bangkit dan berniat memilih pekerjaan lainnya .

Pulanglah Nobita dan Doraemon, di rumah mereka membicarakan betapa kasihannya si pemuda tadi.
Lalu mereka teringat dan berkata “Kalau pemuda itu mengubah jalannya dan tidak jadi penulis, maka pasti masa depannya berubah”. Kira-kira begitu dialog mereka yang saya tangkap.
Mereka memutuskan mengunjungi si pemuda lagi ke masa depan, namun tetap mendapati rumah si pemuda tetap sama bahkan tambah jelek tak terawat. Rumah tersebut kosong dan menurut info dari seorang tetangga, si pemuda belum pulang karena sedang bekerja di pabrik.

Singkat cerita Nobita dan Doraemon akhirnya bertemu kembali dengan si pemuda di rumahnya. Ia bercerita, kini ia lebih bisa mensyukuri hidupnya, ia menyadari meskipun wawasannya kurang tapi ia bisa menggunakan wawasan yang lain untuk tetap berkarya. Ia ternyata tetap menulis novel di sela-sela pekerjaannya. Menurutnya, diramal atau tidak kita harus tetap menerima kehidupan ini dengan baik, menjalani hidup sebaik-baiknya. (Kalau menurut saya sih lebih baik tak usah diramal, hehehe)

Tiba-tiba di sela obrolan mereka datang segerombolan wartawan ingin mewawancarainya karena ternyata novel karyanya mendapatkan penghargaan tertinggi.

Penerimaan terhadap hidupnya selama ini akhirnya membuahkan hasil.

“Nasib orang tidak bisa ditebak, jadi jalani saja apa yang diyakini sekarang”, kata si Nobita.

Asli keren‼!

Sejauh yang saya pahami, begitulah konsep takdir. Ia bisa berubah tergantung keputusan yang kita ambil saat ini. Lalu bagaimana dengan Lauhul Mahfuz? Bukankah semuanya sudah dituliskanNya, bahkan daun yang jatuh pun tertulis di sana?

Saya memahami bahwa apa yang ditulis dalam Lauhul Mahfuz ini masih berupa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika kita memilihnya pada saat ini. Jadi seperti ada kemungkinan-kemungkinan yang jumlahnya tak terbatas ketika kita memilih sebuah jalan atau keputusan. Misalkan, kita saat ini memilih menjadi seorang yang rajin berusaha, selalu bersemangat, dan selalu berpikir positif. Maka mungkin di masa mendatang kita menjadi seorang pengusaha, motivator, inspirator, dan lain-lain. Meskipun kita tak pernah benar-benar tahu kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Bayangkan jika Lauhul Mahfuz ini TIDAK berupa kemungkinan-kemungkinan, jadi misalkan Saudara ditakdirkan menjadi orang yang gagal misalnya. Mudah-mudahan tidak ya, saya berdoa untuk Saudara supaya sukses pada jalan masing-masing. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…
Tapi seandainya benar, apakah Saudara bisa terima dengan rela jika ditakdirkan seperti itu?

Kalau memang satu-satunya jalan yang dituliskan pada “kitab” seseorang adalah menjadi pencuri, koruptor, atau penjahat lainnya, maka bukankah kita tak boleh menghujat mereka yang senyum-senyum di TV itu? Justru kita seharusnya kasihan karena satu-satunya jalan mereka adalah menjadi koruptor, pencuri, penjahat.
Tuhan tidak adil kalau seperti itu dong?

Jangan berpikir seperti itu ya.

Saya yakin sekali kalau Tuhan itu Maha Adil. Saya menangkap KeMaha AdilanNya dari pemahaman tentang takdir ini. IA memberi makhluk-makhluknya berbagai kemungkinan yang bisa dipilih. Nasib kita murni diserahkan pada kita. Saudara bisa memilih menjadi orang yang sukses dalam bidang apapun yang Saudara tekuni atau memilih berkutat dengan kegalauan dirinya. Sibuk memikirkan pacar yang belum tentu akan dinikahi tetapi sudah pasti menghabiskan waktu produktif dan uang yang didapatkan dari orang tua, sibuk mengeluhkan kekurangan dan kesulitan ini itu, dll.

Tapi pada realitanya memilih ini tidak mudah, tapi mau atau tidak mau kita pasti memilih. Dan sangat bisa kita memilih sesuatu yang nantinya akan menguntungkan kita. Terlebih jika kita sadar akan adanya pilihan tersebut.

Lalu apa yang kita lakukan jika merasakan kegagalan seperti yang dialami pemuda tadi?
Kalau yang saya tangkap, saya tak boleh menyerah begitu saja, menerima kondisi saat ini sebaik-baiknya sambil terus mencari passion yang tepat yang di dalam hidup bisa membuat saya merasa bahagia dan bisa bersyukur sepanjang hidup saya. Seandainya sudah ketemu, fokus ke hal tersebut dan jangan pernah berhenti belajar.

Dan yang paling penting adalah yakin, yakin kita punya Tuhan. Tuhan Seluruh Alam Semesta, Yang Maha Rahman. Yang diibaratkan ketika kita datang padaNya dengan berjalan, IA akan datang pada kita dengan berlari. Yang lebih dekat daripada urat leher kita. Yang memiliki langit dan bumi.

Keyakinan tersebut menghasilkan diri yang tak punya rasa khawatir sedikitpun terhadap sandungan-sandungan kerikil dalam hidup. Tak muncul takut menghadapi hidup ini apabila kita memilih tetap dalam jalurNya. Seandainya suatu waktu sedikit keluar dari jalurNya pun kita masih bisa memilih untuk kembali dan mendapatkan rahmatNya. Tetapi berusaha dan berdoalah agar tak keluar jalurNya, maka sampai akhir nanti kita akan selalu dalam jalurNya.
InsyaAllah...
Saling mendoakan, supaya saya dan Saudara  tetap dapat menikmati hidup ini dengan tetap berada dalam jalurNya. Aamiin...

Saya kira saya yang sedang banyak belajar ini butuh juga doa dan masukan dari Saudara. Jika Saudara punya pemahaman lain yang lebih hebat dan lebih pas dari pemahaman saya, maka ceritakanlah tanpa ragu. Saya yakin Saudara tak ingin menyimpan pemahaman Saudara yang luar biasa itu sendirian. Siapa tau dengan berbagi ini menjadi jalan Saudara merengkuh rahmatNya.

Dan jujur saya senang sekali jika punya partner dalam belajar mengenai kehidupan.

Bagaimana jika yang Saudara sampaikan salah dan menyimpang?
Penyampaian saya pun tak selalu benar.
Manusia tempatnya salah dan lupa, nanti kita perbaiki bersama. Jangan pernah berputus asa dari rahmatNya.
Sampai jumpa pada catatan-catatan belajar selanjutnya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sabtu, 14 Desember 2013

Belajar Menuju Allah : Doa

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Allah Maha Mengabulkan, sebagai umat Islam kita wajib meyakini hal tersebut. Sangat aneh bila saat berdoa ada pertanyaan, "mungkin gak ya, doaku dikabulkan?". Pasti kita semua pernah kan? Saya pun pernah juga, hehe... Sebenarnya doa-doa kita banyak yang sudah terkabul lho.. Tapi seringkali kita tidak sadar dan terbuai kenikmatan rasa "ini kerja kerasku". Di catatan ini saya bukan bermaksud menggurui, menghakimi, maupun sok pintar. Di sini saya mencoba berbagi pengalaman dan berbagi ilmu yang saya pelajari.

Kembali ke topik doa...
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mukmin 60 "Berdoalah kepadaKu maka Aku perkenankan bagimu". Nah ini janji dari Allah kepada kita, lalu apakah kita sudah memanfaatkan janji Allah tersebut? Perlu kita ketahui, ada satu hal yang tidak pernah dilakukan Allah, yaitu ingkar janji. Namun itu hak Allah sepenuhnya, karena Dia Sang Maha Kuasa. 

Kita flashback sejenak dan tanyakan kepada diri kita, "Berapa banyak doa kita yang sudah terkabul?". Kalau saya pribadi merasa ternyata sangat banyak doa saya yang terkabul. Nah artinya janji Allah untuk mengabulkan doa kita sangatlah nyata. Tapi yaaa itu... Kita tidak sadar akan terkabulnya doa kita. Bersyukurlah kawan, rasakan dan jiwai terkabulnya doa tersebut. Kita akan menemukan perasaan syukur yang luar biasa dari hati kita.

Oh iya, tapi pernah gak kita merasa "Kok doa saya tidak/belum/lama sekali dikabulkan ya?". Kalau begini apa masalahnya? Masalahnya ada pada diri kita, saya, kita yang berdoa.
Dalam dunia pengembangan diri yang saya pelajari, ada yang disebut vibrasi atau getaran pikiran dan perasaan. Nah vibrasi ini terbagi menjadi dua yaitu Force (Getaran Pikiran Negatif) dan Power (Getaran pikiran Positif). 



Tabel di atas menjelaskan frekuensi energi pikiran yang positif dan negatif. Semua orang pasti pernah mengalami perasaan atau emosi seperti yang tertulis di tabel tersebut.

Nah bisa kita lihat pada tabel Force, di sana ada level keinginan dan emosinya yaitu keinginan yang kuat akan sesuatu. Nah di sini masalahnya. Kita memang sudah berdoa dan Allah berjanji akan mengabulkan. Akan tetapi jiwa kita, emosi kita menunjukkan keinginan yang sangat kuat. Kita sangat ingin doa itu terkabul dan lupa memasrahkannya pada Allah. Ini yang terkadang menjebak kita, maka dari itu lepaskan diri kita dari "kemelekatan" dengan keinginan kita. Percayalah bahwa kekuatan pasrah kepada Allah jauh lebih mendekatkan kepada terkabulnya doa kita.

Selain itu, kita juga butuh "jeda". Jeda yang dimaksud adalah berhenti sejenak dan lupakan keinginan tersebut, ini juga termasuk memasrahkan kepada Allah. Man jeda wa jadaa, hehe nyeleneh banget. 

Logika jeda itu begini, misalkan kita meminta tolong kepada teman kita supaya keinginan kita tercapai. Tiap hari kita ejar teman kita tersebut dan minta toloooong terus. Apa yang terjadi? Justru teman kita malah menjauhi kita kan? Nah seperti itu juga jika kita doa terus menerus tanpa jeda, keinginan kita justru menjauh. Namun dalam hal ini Allah Yang Maha Penyayang bukan menjauhkan kita dari keinginan kita, namun menundanya dan memberikannya pada saat yang tepat. Saat kita sudah benar-benar memasrahkan kepadaNya. Sekali lagi saya perjelas, Allah Maha Mengabulkan.

Untuk memperkuat keimanan kita pada Kekuasaan Allah, berikut ini ada sedikit kutipan dari salah satu sahabat fb saya. 

"Saat banyak pesan ke inbox fb ... Banyak bbm ... Banyak sms ... Banyak pesan ke whatsapp ... Dan aku kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat ... Aku spontan kagum dengan kehebatan-NYA yang selalu menjawab semua do'a ..." 
-Arif Rh- 

Maaf bila ada kesalahan, saya hanya berusaha berbagi. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Belajar Menuju Allah : Visi Akhirat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya mau sharing dikit tentang visi akhirat saya + mengajak teman-teman menetapkan visi juga. Let's go!

Sebelum ke visi akhirat, kita baca dulu kisah salah seorang sahabat nabi yang bernama Ukasyah berikut.

Di penghujung usianya, saat Rasulullah sudah mulai sakit-sakitan, beliau meminta kaum muslimin untuk berkumpul dalam sebuah majelis di masjid. Para sahabat berkumpul untuk memenuhi undangan nabiyullah tercinta dan bersiap-siap mendengarkan pesan apa yang akan disampaikan Rasulullah.

Rasulullah segera naik mimbar seraya berkata,"Wahai kaum muslimin, siapa yang pernah aku sakiti? Berdirilah! Balas aku sekarang! Karena aku tidak mau menerima balasan itu di akhirat." 

Rasulullah mengulang perkataan tersebut hingga tiga kali. Sebelumnya para sahabat tidak ada yang berdiri. Kemudian setelah tiga kali, berdirilah Ukasyah sembari berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah, demi Rasulullah, demi Ayah dan Ibuku, andaikan engkau tidak berkata itu tiga kali , aku tidak akan berdiri. Tapi karena engkau tidak berhenti bertanya, aku pun memberanikan diri untuk berdiri. Ya Rasulullah, ketika Perang Badar dulu, aku berdiri di sebelahmu. Entah sengaja atau tidak tongkatmu itu mengenai tubuhku. Sakit, Ya Rasulullah. Maka hari ini aku ingin membalasmu dengan tongkat itu, wahai Rasulullah."  

Apa jawaban Rasulullah? “Wahai Ukasyah, jauh nian dari sikap sengajaku untuk memukulmu. Tapi bila engkau menghendaki membalas memukulku, pukullah.”

Seketika suasana majelis menjadi gaduh. Rasulullah dengan senyumnya, mengangkat tangan member tanda para sahabat berlaku tenang. Kemudian Rasulullah mengutus Bilal untuk mengambil tongkatnya di rumah Fatimah. Sesampainya di rumah Fatimah, Bilal ditanya untuk apa tongkat tersebut. Bilal menjawab, “Tongkat ini untuk memukul Rasulullah”.

Putri kecintaan Rasulullah itu menjawab, “Bukankah Rasulullah sedang sakit? Siapa yang tega mau memukul Rasulullah?.” Bilal tidak menjawab. Tongkat itu pun dibawa ke masjid lalu diserahkan kepada Rasulullah.

Rasulullah mengatakan, “Wahai Ukasyah, tongkat inilah yang aku gunakan di Perang Badar. Ambillah dan pukullah aku dengan tongkat ini.”  Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah.

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, "Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engaku pukul Rasulullah !" Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkanakan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah. Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini: "Duhai sahabatku, duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!" 

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : "Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi SAW. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!" 

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah, dia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin. Nabi pun menahan. "Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!" Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. "Hai Ukasyah! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri!" Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata. Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku." 

Dan akhirnya Nabi berkata: “Hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!" "Ya Rasulullah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku," Kata Ukasyah.

Separuh dari para sahabat yang berada dalam majelis tersebut berteriak tak kuasa menahan tangis mereka, “Ya Rasulullaaaah….” Sebagian lagi berteriak, “Ya Ukasyaaah… tega-teganya engkau, Ya Ukasyaaah.”

Rasulullah mengikuti keinginan Ukasyah. Beliau kemudian menanggalkan jubahnya sehingga terlihat bagian punggung dan dada beliau.

Seolah tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Ukasyah meletakkan tongkat dan memeluk Rasulullah erat-erat. Sambil menangis, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mana mungkin aku tega memukulmu? Aku hanya ingin tubuh yang hina ini bersamamu di akhirat, wahai Rasulullah.”

Setelah mendengar Ukasyah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa ingin melihat calon penghuni surge, lihatlah orang ini.”

Para sahabat ikut terharu. Setelah itu, Ukasyah dan para sahabat langsung pulang ke rumah masing-masing. Rasul pun demikian. Sesampainya di rumah, beliau mengalami sakit keras yang mengantarkannya pada keperihan momen sakaratul maut. Rasulullah berkata, “Ya Allah… sakit nian sakaratul maut ini. Aku mohon kepada-Mu, pindahkan semua rasa sakit sakaratul maut kepadaku. Janganlah umatku yang menanggungnya. Jangan umatku, Ya Allah. Ummati… Ummati… Ummati….” Dan kemudian meninggallah Rasulullah.

Saya iri dengan Ukasyah, saya ingin memeluk Nabi. Setiap hari saya berdoa, “Ya Allah, aku ingin memeluk Muhammad SAW. Maka pantaskan diriku, bimbing diriku ke jalan hidup yang Engkau ridhoi, bukan jalan yang Engkau murkai.”

(Dikutip dari buku Best Seller “ON” karya Jamil Azzaini dengan beberapa perubahan)

Subhanallah :’)

Jujur waktu pertama kali membaca kutipan di atas, saya merasakan goncangan yang luar biasa di dalam hati. Entah itu haru, sedih, bahagia, sulit didefinisikan.

Irikah juga kita dengan Ukasyah? Dia dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah langsung, bahkan sempat memeluk beliau sebelum ajal menjemput Rasulullah.

Rindukah kita dengan Rasulullah? Ditengah penderitaannya merasakan 300 tusukan pedang saat sakaratul maut, beliau masih memohon untuk ditambah lagi sakitnya demi keringanan sakaratul maut untuk umatnya. MasyaAllah, beliau mengkhawatirkan kita, padahal kita belum tentu merasa ada yang mengkhawatirkan kita seperti beliau. Mana wujud kasih sayang dan terima kasih kita sebagai umatnya? Betapa hinanya kita.Astagfirullahal'adziim ;( 

Yaa Nabi Salaam ‘Alaikaa…
Yaa Rasul Salaam Salaam ‘Alaikaa…
Yaa Habiib Salam ‘Alaika…
Sholawatullaah ‘Alaika….

Setelah saya membaca kisah tersebut saya tiba-tiba merasakan suatu perasaan rindu, suatu impian, dan suatu harapan supaya suatu saat di akhirat nanti, di surga tepatnya, saya dapat memeluk Rasulullah dengan rasa rindu yang sangat dalam, rasa haru dan bahagia sekaligus. Kemudian saya membayangkan Rasulullah mengusap-usap kepala saya sambil tersenyum bangga. Entah kenapa doa, harapan dan semangat saya untuk berbuat baik dan menghidupkan sunnah-sunnah juga menjadi bertambah, ingin rasanya supaya dipantaskan oleh Allah untuk memeluk Rasulullah seperti Ukasyah di akhirat nanti dan supaya bisa merasakan betapa sayangnya Rasulullah kepada kita dengan Syafa’at dari beliau.

Inilah visi akhirat, visi yang mengarahkan kita ke jalan Allah, jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan yang dimurkai-Nya, dan bukan pula jalan yang sesat. Menjadikan kita hidup dengan semangat, terarah, jelas, dan cerah. Memantaskan hal-hal yang terbaik untuk kita dengan cara menjadi yang terbaik juga.

Mau? 
Mana visi akhiratmu?


Maaf bila ada kesalahan, saya hanya berusaha berbagi. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Rabu, 19 Desember 2012

Terapi Dengan 5 Obat Hati

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kali ini saya akan berbagi artikel tentang Terapi Dengan 5 Obat Hati.
Bismillahirrohmaanirrohiim,


Muhammad Mahmud Mahmud (dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, 2001), seorang psikolog muslim ternama membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori.

Pertama, bersifat duniawi berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan psikis setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Psikoterapi duniawi merupakan hasil daya upaya manusia berupa teknik-teknik terapi atau pengobatan kejiwaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah insaniyah.

Kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan agama, dan kedua model psikoterapi ini satu sama lain saling terkait.

Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2001) psikoterapi dalam Islam yang dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi, ukhrawi maupun penyakit manusia modern adalah sebagaimana ungkapan dari Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

Obat hati itu ada lima macam:
1. Membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya,
2. Melakukan shalat malam,
3. Bergaul dengan orang yang baik atau shalih,
4. Memperbanyak shaum atau puasa,
5. Dzikir malam hari yang diperpanjang.

Barang siapa yang mampu melakukan salah salah satu dari kelima macam obat hati tersebut maka Allah akan mengabulkannya (permintaannya dengan menyembuhkan penyakit yang diderita).


Terapi yang pertama membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya


Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab di dalamnya terdapat rahasia mengenai bagaimana menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan seseorang. Sugesti yang dimaksud dapat diraih dengan mendengar, membaca, memahami dan merenungkan, serta melaksanakan isi kandungannya:



Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra, 71:82).

Terapi yang kedua adalah melakukan shalat malam (qiyamul lail)

.
Keampuhan terapi shalat sunnah ini sangat terkait dengan pengamalan shalat wajib, sebab kedudukan terapi shalat sunnah hanya menjadi suplemen bagi terapi shalat wajib. Adapun hikmah dari pelaksanaan shalat malam dalam hal ini shalat tahajud adalah:

  •  Mendapat kedudukan terpuji di hadapan Allah SWT.

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai
suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu
ke tempat yang Terpuji. (QS. Al-Israa, 71:79).

  • Memiliki kepribadian orang-orang salih yang dekat dengan Allah SWT., terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar.
  • Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketentraman dan dijanjikan kenikmatan syurga.
  • Doanya makbul, mendapat ampunan Allah SWT., dan dilapangkan rizkinya.
  • Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.



Shalat secara umum memiliki empat aspek terapeutik,

Pertama adalah aspek olahraga, karena shalat adalah suatu proses yang menuntut aktivitas fisik yang di dalamnya terdapat proses relaksasi. Salah satu teknik yang banyak dipakai dalam proses terapi gangguan jiwa adalah latihan relaksasi. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Nizami diungkap bahwa shalat menghasilkan bio energi yang menghantarkan si pelaku dalam situasi seimbang (equilibrium)

Hasil penelitian lainnya dari Arif Wisono Adi, 1985 (dalam Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori, 1994) menunjukan adanya korelasi negatif yang signifikan antara keteraturan menjalankan shalat dengan tingkat kecemasan. Makin rajin dan teratur orang melakukan shalat maka makin rendah tingkat kecemasannya.

Kedua adalah aspek meditasi. Shalat adalah proses yang menuntut konsentrasi yang dalam (khusuk) dan kekhusukan dalam shalat adalah suatu proses meditasi, yang dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa aktivitas meditasi dapat menghilangkan kecemasan.

Ketiga adalah aspek auto-sugesti. Bacaan dalam pelaksanaan shalat adalah ucapan yang dipanjatkan pada Allah. Di samping berisi pujian pada Allah juga berisikan doa dan permohonan pada Allah agar selamat di dunia dan di akhirat. Proses shalat pada dasarnya adalah terapi yang tidak berbeda dengan terapi "self-hypnosis" dengan mensugesti diri sendiri dengan mengucapkan hal-hal yang baik pada diri sendiri agar memiliki sifat yang baik tersebut.

Keempat adalah aspek kebersamaan. Hal ini tampak pada saat pelaksanaan shalat berjamaah yang pada pelaksanaannya memupuk rasa kebersamaan. Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan "keterasingan" dari orang lain adalah penyebab utama terjadinya gangguan jiwa. Dengan shalat berjamaah perasaan terasing dari orang lain itu dapat hilang.

Terapi yang ketiga adalah bergaul dengan orang salih. 

Orang yang salih adalah orang yang mampu mengintegrasikan dirinya dan mampu mengaktualisasikan potensinya semaksimal mungkin dalam berbagai dimensi kehidupan. Jika
seseorang dapat bergaul dengan orang salih maka nasihat-nasihat dari orang salih tersebut akan dapat memberikan terapi bagi kelainan atau penyakit mental seseorang. Dalam terminologi tasawuf hal ini tergambar pada seorang guru sufi atau mursyid yang memiliki ketajaman batin terhadap kondisi penyakit muridnya.

Terapi yang keempat adalah melakukan puasa. 

Maksud puasa di sini adalah menahan (imsak) diri dari segala perbuatan yang dapat merusak citra fitri manusia. Al-Ghazali mengemukakan bahwa hikmah berpuasa (menahan rasa lapar) adalah:


  1. Menjernihkan kalbu dan mempertajam pandangan akal
  2. Melembutkan kalbu sehingga mampu merasakan kenikmatan batin
  3. Menjauhkan perilaku yang hina dan sombong, yang perilaku ini sering mengakibatkan kelupaan
  4. Mengingatkan jiwa manusia akan cobaan dan azab Allah, sehingga sangat hati-hati di dalam memilih makanan
  5. Memperlemah syahwat da tertahannya nafsu amarah yang buruk
  6. Mengurangi tidur untuk diisi dengan berbagai aktivitas ibadah
  7. Mempermudah untuk selalu tekun beribadah
  8. Menyehatkan badan dan jiwa
  9. Menumbuhkan kepedulian sosial
  10. Menumbuhkan rasa empati

Terapi yang kelima adalah berdzikir. 


Dalam arti sempit zikir berarti menyebut asma-asma agung dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti yang luas, zikir mencakup pengertian mengingat segala keagungan dan kasih sayang Allah SWT. yang telah diberikan kepada kita, sambil mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang untuk mengingat, menyebut dan mereduksi kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT., semata sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya, melakukan zikir sama nilainya dengan terapi relaksasi.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd, 13:28)”.

SUMBER

Semoga bermanfaat, ;)
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.